Selasa, 06 Maret 2012

Kamera: Aplikasi dan Jenisnya



Tulisan ini akan mendiskusikan mengenai kamera sebagai alat utama dalam memproduksi foto. Pertama akan didiskusikan mengenai perbedaan mendasar antara system operasi kamera digital dan analog. Meski kamera analog sudah jarang dipakai saat ini, namun system operasi ini adalah dasar dari pengembangan kamera berbasis digital. Kamera digital yang beredar luas aat ini juga telah berkembang secara cepat baik dari sisi kemasan maupun teknologi yang diusung.

Tulisan ini juga akan membahas mengenai jenis kamera yang beredar di pasaran, serta lebih jauh akan membahas sistem  yang dibenamkan dalam masing-masing kamera tersebut. Dengan pembahasan ini, diharapkan mahasiswa akan mampu memahami fungsi dasar operasionalisasi kamera foto sehingga mampu mendapatkan kualitas foto yang sesuai dengan kebutuhan.

1.       Digital dan analog

Pertama kali saya mengenal kamera adalah saat orang tua memberikan sebuah kamera saku manual. Dengan fitur yang serba otomatis, dipastikan bahwa gambar akan selalu ‘bisa’ dilihat, terlepas apakah gambar itu indah atau tidak. Aktivitas beli roll film, memotret, mencuci dan mencetak menjadi hal yang wajar dilakukan pada waktu itu. Pada saat kuliah pun saya masih memakai kamera analog,tapi sudah berganti dari kamera saku ke kamera SLR (single lens reflect). Implikasinya, saya mulai dipusingkan dengan aturan komposisi, setting manual diafragma dan kecepatan rana. Beli film pun harus sudah perhatikan ISO berapa yang dipakai, apakah warna atau hitam-putih. Anda pun harus pandai memasang roll film. Jika tidak pas, dipastikan frame-nya meleset atau bahkan roll film akan terbakar karena memasangnya di tempat yang terlalu terang.

Namun segala kerepotan itu hilang saat saya mulai berkenalan dengan kamera berbasis digital. Semua system disimplifikasi dan terintegrasi dalam satu bentuk kamera. Memotret pun akan seketika bisa me-review gambar yang dihasilkan. Berbeda dengan kamera analog, memotret harus menunggu dicuci cetak untuk mengetahui hasilnya. Jika hasilnya jelek, ya rugi uang dan rugi waktu. Gambar yang dihasilkan oleh kamera digital bisa disunting ulang di computer dan seketika bisa dicetak melalui printer di rumah. Sedangkan foto yang masih termuat dalam roll film dalam kamera analog masih harus melalui proses cuci film untuk kemudian dicetak melalui printer khusus yang tersedia di toko-toko kamera. Meski kamera SLR analog sudah mengadopsi teknologi mutakhir, namun di kamera digital settingnya juga semakin komplit, karena bisa memilih setting potret automatis, manual, atau setting tertentu untuk beragam objek dan kondisi pencahayaan.

Jika ditilik dari system yang dipakai, kamera analog dan kamera digital menerapkan cara yang berbeda terutama dalam penggunaan materi penangkap gambar. 

ilustrasi perbedaan sistem penangkapan cahaya pada kamera analog dan digital (John Tarrant, 2003)

Pada kamera manual, cahaya yang masuk ke kamera akan ditangkap oleh film dan membutuhkan proses selanjutnya untuk menjadi sebuah gambar yang bisa dilihat. Sedangkan pada kamera digital cahaya yang masuk akan ditangkap oleh chip elektronik peka cahaya yang disebut CCD (Charge Coupling Device), yang kemudian disimpan dalam memory card (media penyimpan data). Revolusi medium penangkap cahaya dari film ke CCD membantu pemotret untuk me-review hasil foto secara cepat melalui layar LCD kamera.

CCD adalah semikonduktor peka cahaya yang tersusun dari jutaan titik (pixel). Jadi jika sebuah kamera mempunyai fitur 12 mega pixel ,maka CCD akan memuat 12,000,000 pixel. Saat cahaya menyentuh CCD, setiap pixel berubah menjadi picu elektrik yang memunculkan warna sesuai dengan panjang gelombang cahayanya (Kim, 2003). CCD dalam dunia foto digital disebut sebagai ‘sensor’. Sensor yang secara umum dikenal adalah CCD dan CMOS (Complimentary Metal Oxyde Semiconductor).

Migrasi tekonologi penangkap cahaya dari film ke sensor elektrik juga berpengaruh terhadap ukuran kamera. Ruang khusus dalam kamera yang biasanya ditempati oleh roll film menjadi tidak perlu dan bisa dhilangkan. Sensor elektrik yang kecil, tipis dan hemat ruang mereduksi ukuran kamera secara signifikan. Bentuk kamera pun menjadi lebih kompak dan mudah dibawa kemana-mana. Produsen kamera pun lebih leluasa membuat kamera dengan berbagai bentuk dan ukuran.

Ragam kamera Digital (Chavanu, n.d)

Meski digitalisasi kamera berjalan secara cepat dan produksinya juga massif, penggemar kamera analog masih tetap ada. Selain karena harga kamera digital lebih mahal, kamera analog masih disukai karena mampu mengasah kemampuan fotografer secara mendalam, terutama dalam memotret objek dan proses pasca-produksi. Foto yang diambil tidak boleh sembarangan karena dibatasi oleh jumlah roll film yang ada. Hasil foto pun tidak bisa langsung dilihat, jadi insting fotografer akan terus terasah. Usai memotret pun, seorang fotografer yang memiliki Ruang Gelap sendiri akan memproses secara kimiawi dari pita seluloid ke dalam kertas foto. Kontras dan saturasi foto diedit secara manual. Aktivitas inilah yang kemudian tidak bisa dimiliki oleh budaya digital yang serba cepat dan instant.

Jenis kamera

Dari sekian banyak jenis kamera foto yang beredar di pasaran, pertanyaan mendasar yang mungkin muncul di benak fotografer pemula adalah: “jenis kamera apa yang harus saya gunakan?” jawaban umum yang bisa diberikan adalah tergantung berapa banyak uang yang ingin anda habiskan untuk sebuah kamera, dan difungsikan untuk memotret apa kamera itu nantinya. Tulisan ini akan membahas mengenai jenis kamera digital yang beredar di masyarakat. Kamera analog tidak akan dibahas karena peredarannya di masyarakat juga berkurang secara signifikan seiring maraknya pengembangan produk kamera berbasiskan digital.
Ada tiga tipe kamera yang secara luas beredar di pasaran dan dipakai secara massal oleh konsumen: 1) Point-and-shoot, 2) Compact, dan 3) DSLR (Digital Single Lens Reflex). Masing-masing kamera memiliki fungsi berdasarkan bentuk dan ukurannya.

1. Point-and-shoot Camera

Jenis kamera ini paling banyak dipakai oleh konsumen jika dibandingkan dengan jenis kamera yang lain. Konsumen memakai kamera ini sesuai nama yang diberikan. Kamera ini memang ditujukan untuk konsumen foto kelas pemula yang menginginkan simplifikasi dalam pemakaian. Tidak perlu mengatur setting dengan rumit. Cukup dinyalakan, diarahkan ke bidang foto, dan dijepret. Seluruh system foto juga terintegrasi dan diatur secara otomatis, seperti ISO, kecepatan rana, diafragma, dan White Balance. Kamera ini bisa dibeli dengan harga dibawah kamera Compact atau DSLR. Kamera ini biasanya berukuran kecil dan mudah dibawa kemana-mana.

Ragam kamera Point and Shoot

Lensa yang dipakai mempunyai jarak fokal yang bervariasi (misalnya: 17-105mm, 17-85mm). Lensa terpasang menyatu dengan tubuh kamera dan tidak bisa dibongkar-pasang. Karena memakai teknologi yang disesuaikan dengan harganya, maka seringkali terjadi ketidakpuasan konsumen terkait lambatnya proses olah foto oleh sensor, layar LCD yang kurang cerah warnanya, dan keterbatasan jangkauan diafragma dan ISO.

2. Compact Camera

Jenis kamera ini mempunyai fitur yang hampir sama dengan kamera point-and-shoot. Yang membedakan adalah ukurannya yang lebih besar dengan fitur yang lebih beragam. Harga kamera ini lebih mahal dari point-and-shoot dan bahkan lebih mahal dibanding beberapa kamera DSLR kelas menengah kebawah.

Kamera ini memang ditujukan untuk menjembatani konsumen yang ingin lebih serius mendalami fotografi namun tidak memiliki cukup dana untuk membeli kamera DSLR ataupun memang tidak menginginkan bentuk dan ukuran terlalu besar seperti pada kamera DSLR maupun terlalu kecil seperti pada kamera point-and-shoot.  


Ragam kamera compact
3. DSLR

Sesuai dengan namanya, Kamera Digital Single-Lens Reflex (DSLR) memang membawa konsep cermin reflektif yang memungkinkan pemotret membingkai gambar melalui cermin terlebih dahulu sebelum rana ditekan. Cahaya yang melalui lensa kamera DSLR akan jatuh ke prisma reflector dan dipantulkan ke viewfiender (jendela intip). Jadi pemotret akan melihat kondisi actual objek foto.

Saat rana ditekan, cermin akan berputar keatas dan membuka jalan bagi cahaya untuk masuk ke sensor digital untuk kemudian dilakukan pengolahan gambar sebelum ditayangkan dio layar LCD. Berbeda dengan kamera point-and-shoot ataupun kamera compact, semua fitur dalam kamera DSLR bisa diatur sesuai dengan keinginan pemotret. Kamera DSLR juga memungkinkan penyesuaian lensa dengan cara bongkar-pasang.    





Ilustrasi tubuh kamera DSLR

Jenis kamera lainnya

Dalam perkembangannya, terdapat banyak variasi jenis kamera. Kamera seperti medium format, Twin Lens Reflect sudah banyak dikenal bahkan sebelum era kamera digital. Kualitas kamera tersebut sangat mumpuni dan biasa dipakai fotografer professional. Namun karena harganya yang mahal, peredaran kamera ini pun hanya terbatas di pasar-pasar khusus. 




contoh medium format camera

Perkembangan yang paling banyak menarik perhatian adalah jenis kamera Micro four-thirds. Konsep kamera ini dikembangkan bersama oleh Olympus dan Panasonic. Jenis kamera ini mendukung teknologi DSLR dengan bentuk dan ukuran seperti kamera compact. Seiring kemudian, Sony dan merk lain mulai mengikuti dengan konsep kamera mirrorless.


contoh kamera Micro-Four-Third


Pada 2011, konsep kamera masa depan, WVIL camera diperkenalkan ke public. Kamera ini berukuran mini seukuran smartphone, dengan system olah gambar digital dan fungsi touchscreen. Lensa yang dipakai pun bisa dibongkar pasang.





Sistem operasional kamera

Semua jenis kamera foto mempunyai satu tujuan system operasi yang sama: menangkap cahaya melalui lensa dan diproses kemudian menjadi produk foto. Meski demikian, pola operasi kamera akan berbeda tergantung dari teknologi yang dipakai.

Secara mendasar, system operasi kamera digital tidaklah berbeda dengan kamera analog. Keduanya sama mengoperasikan elemen inti dari lensa, diafragma, dan kecepatan rana. Perbedaannya hanyalah bagaimana objek foto itu ditangkap dan informasi datanya disimpan. Jadi, jika anda terbiasa memotret dengan kamera analog, maka anda tidak akan menemukan kesulitan ketika memakai kamera digital.  




                                                                                                diafragma     


Secara sederhana, kamera analog terdiri atas sebuah system lensa, sebuah system diafragma (aperture) dan sebuah system rana (shutter). System lensa akan memastikan bahwa objek yang tertangkap akan focus, sementara aperture dan shutter akan mengontrol jumlah cahaya yang masuk kedalam film. Segera setelah shutter dipencet, cahaya akan dibiarkan masuk melalui system lensa dan aperture. Cahaya kemudian akan dihadang oleh rana (bentuk fisik rana masih tampak di kamera film, pada kamera digital rana diatur secara digital) sebelum masuk ke bidang sensor digital. Gambar akan diolah oleh sensor dan kemudian ditampilkan di layar LCD (pada kamera digital).  

Kesimpulan

Kamera diproduksi oleh produsen yang berbeda dengan system yang berbeda pula. Jenis-jenis kamera yang dibahas diatas adalah sebagian dari kamera yang beredar di pasaran. Perkembangan inovasi kamera pun memang terfokus kepada revolusi ukuran dengan tendensi perkecilan bentuk. Dengan pesatnya perkembangan teknologi, tidak mustahil jika kemudian kamera berkualitas akan semakin mudah diakses dan dibawa kemana-mana karena harganya yang terjangkau dan bentuknya yang kompak.

Yang perlu diperhatikan oleh fotografer pemula, adalah jangan terlalu mementingkan harga ketika membeli sebuah kamera. Gunakan kamera jenis apapun, yang penting anda terus memotret. Kualitas foto yang bagus tidak serta merta ditentukan oleh harga kamera.




Aktivitas Bersama



1.    cari tahu lebih jauh tentang perkembangan fotografi, misalnya dari alat perekam foto yang dihubungkan dengan budaya yang diciptakannya (misalnya penggunaan kamera Polaroid, kamera Lomo dalam Lomografi, dll)

2.    cari kamera ataupun bukti foto lama yang ada di rumah anda, model apapun. Perhatikan bentuknya, kapan diproduksi, dan bandingkan dengan teknologi kamera saat ini dan masa lampau. Berikan opini anda.

       

      Daftar Pustaka
Apple. (2005). Aperture: Digital Photography Fundamentals. Apple Computer Inc.
Olympus. (2006). FAQ Frequently Asked Questions on Digital Photography. The Olympus Digital Library – Volume 5. Olympus Imaging Europa.
Tarrant, John.( 2003). Digital Camera Techniques. Focal Press. Oxford.






Senin, 05 Maret 2012

Fotografi: Sejarah, Seni, dan Media Massa

Semua yang bergerak itu diawali dari sesuatu yang tidak bergerak. Begitu pula dengan teknologi visual. Gambar bergerak di film adalah terdiri dari rangkaian gambar diam yang bergantian mucul dengan cepat sehingga menimbulkan efek gerak. Fotografi merupakan cikal bakal teknologi visual yang berkembang pesat terutama dalam dua dekade terakhir.


Camera Obscura http://en.wikipedia.org/wiki/File:Camera_obscura.jpg 




Keberadaan fotografi tidak lepas dari inovasi kamera. Sebelum kamera modern ditemukan, para seniman memakai camera obscura, sebuah kotak berdimensi ruang gelap dengan lubang kecil yang dipakai untuk menangkap cahaya. Namun pemakaian alat ini sebatas untuk membantu seniman melukis di kanvas (melalui sinar matahari yang menembus lubang obscura.
Perkembangan Berawal pada 1826, seorang berkebangsaan Perancis bernama Joseph Nicephore Niepce menggunakan camera obscura (sebuah kotak hitam penangkap cahaya) untuk membidik visual sebuah wilayah pedesaan di Le Gras, Perancis. Visual ditangkap dengan menggunakan sebuah plat berlapis zat kimia. Niepce menamakan tekniknya: “hellography” yang bermakna “sun drawing” (melukis dengan cahaya matahari). Proses ‘pelukisan’ dengan menggunakan cahaya ini memakan waktu delapan jam. Tidak lama setelah terbentuk, visual itu perlahan memudar, namun masih bisa terlihat dalam plat yang masih terawat dengan baik sampai sekarang.

Sun Drawing  http://en.wikipedia.org/wiki/File:View_from_the_Window_at_Le_Gras,_Joseph_Nic%C3%A9phore_Ni%C3%A9pce.jpg
Tiga belas tahun kemudian, pada awal 1839, seorang pelukis dan ahli kimia dari Perancis, Louis-Jacques Mande Daguerre mencoba mengambil imej jalanan Paris dari apartemen tempat dia tinggal menggunakan camera obscura dengan proses gambar daguerreotype, yang memapar hasil foto pada selembar plat perak berbahan tembaga. Plat itu dilapisi iodine yang sensitif terhadap cahaya.  Proses pengambilan gambar membutuhkan beberapa menit. Hasilnya, visual pengguna jalan seperti pejalan kaki dan kereta kuda tidak tampak di foto. Tampak juga seorang lelaki yang berhenti untuk menyemirkan sepatunya terekam di foto, menjadikannya orang pertama yang terdokumentasi di dalam foto.

Foto dgn 'penampakan' manusia pertama  http://en.wikipedia.org/wiki/File:Boulevard_du_Temple_by_Daguerre.jpg

Inovasi oleh Daguerre telah menjadi tonggak fotografi modern.  Teknik daguerreotype kemudian dikembangkan oleh Henry Fox Talbot, seorang ahli botani asal Inggris. Henry berkontribusi mengubah film negatif menjadi positif. Pada 1841, Henry menyempurnakan proses ini dan menyebutnya dengan calotype, yang dalam bahasa Yunani bermakna: gambar yang indah. Pada 1889, George Eastman  menemukan medium gambar (film) berbasiskan seluloid nitrat yang lebih fleksibel, tidak mudah kusut, dan dapat digulung (roll).  Selanjutnya, roll film diproduksi secara massal untuk memenuhi kebutuhan fotografer. George juga memperkenalkan Kodak Camera. Pada saat itu, Kodak dijual seharga $ 22.00 termasuk roll film yang cukup untuk 100 shots. Untuk proses cetak, film harus dikirim ke pabrik. Slogan Kodak saat itu: “Anda pencet tombolnya, kami yang akan selesaikan prosesnya”. Setahun kemudian, film berbahan kertas digantikan oleh bahan plastic, yang memudahkan fotografer memproses film-nya sendiri.


Kamera Kodak produksi pertama 

 Pasca inovasi penting oleh George Eastman, produksi kamera fotografi semakin banyak dan mendorong penemuan jenis-jenis kamera foto, seperti kamera 35 mm, Polaroid, dll. Pada 1984, Canon memperkenalkan kamera dengan konsep digital pertama kali di dunia. Dua dekade selanjutnya, perkembangan fotografi menjadi semakin semarak dengan inovasi-inovasi baru di bidang teknologi gambar. Kemajuan teknologi juga membantu fotografer pemula mewujudkan keinginan memiliki kamera dengan harga terjangkau.

Sejarah membuktikan bahwa fotografi erat kaitannya dengan perkembangan teknologi. Fotografi juga terbukti bukan hanya milik kalangan atas, dengan semakin banyaknya peralatan foto yang bisa dibeli dengan harga murah. Fotografi pada akhirnya telah menjadi bentuk konsumsi massal, dimana setiap orang mampu menggunakan dan memanfaatkannya. Meski demikian, perlu kita pikirkan lebih jauh tentang makna dari fotografi itu sendiri. Makna yang terkandung dalam fotografi = melukis dengan cahaya, yang notabene dimaksudkan untuk ‘melukis’, menghasilkan karya yang indah, yang sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan sebelumnya, yang telah memberi batasan tegas mana karya yang baik, mana yang kurang baik.

Fotografi seharusnya tetap dipandang dalam koridor ‘karya seni’ yang bertujuan jelas untuk melahirkan karya-karya dahsyat yang bisa mempengaruhi dan memberi alternatif sudut pandang manusia terhadap satu permasalahan. Fotografi adalah jawabahn kegundahan manusia atas apa yang dilihatnya, yang kemudian dimaksudkan untuk memberi pernyataan lugas, maupun pernyataan sikap fotografer atas kondisi kehidupan yang terjadi.  

Fotografi dan karya seni



Apakah fotografi dapat dipahami sebagai bagian tak terpisahkan dari kesenian? Bandingkan dengan seni lukis, seni peran, seni pahat, dll yang sudah berkembang lama seiring peradaban manusia. Sedikit yang menyadari bahwa pada abad ke-15 sudah ada seniman yang menggunakan perangkat optik untuk membantu mereka berkarya. Menurut Holmes dan Busse (n.d), semenjak era Renaissance, gairah untuk mencapai realisme dan mendapatkan kondisi sesungguhnya dari keindahan alam telah membuat seniman mengembangkan alat tertentu seperti ‘camera obscura’. Alat ini memberi mereka kemampuan untuk merefleksikan objek dalam bidang datar.

Penemuan Daguerroptype dan Calotype telah membuat fotografi diterima dalam dunia seni karena perannya dalam menjembatani patron kelas menengah. Fotografi menyediakan medium seni yang relative cepat dalam penyediaan gambar yang indah dan seni yang menghibur. Fotografi juga telah melampaui semua usaha signifikan dalam menggambarkan alam dan manusia sebagaimana aslinya, sebagaimana tujuan utama dari seni adalah mencari padanan terdekat dari alam yang mereka wakili.
Namun pertanyaan penting yang muncul: apakah fotografer bisa disebut sebagai seniman? Holmes dan Busse (n.d) menambahkan, bahwa seniman harus menyerahkan penuh jiwanya kedalam karya yang dibuat. Dengan peralatan mekanis yang dipakai oleh fotografer untuk mencipta sebuah imaji, apakah mereka telah benar-benar meleburkan jiwanya kedalam karya foto? Ernest Lacan, seorang kritikus fotografi pernah berkata, “fotografi itu seperti nyonya besar yang dipuja namun disembunyikan, yang menyenangkan untuk dibicarakan namun tabu untuk disebutkan”. Sebuah situasi yang kompleks sebenarnya, bahwa fotografi sering menyentuh area abu-abu dari seni itu sendiri.

Ada tiga pandangan mengenai apakah fotografi itu adalah seni: 1) fotografi bukanlah seni, karena karyanya diproduksi dengan bantuan alat dengan fungsi mekanik, serta diproses secara kimiawi, tidak memakai tangan secara langsung dan tidak membutuhkan proses inspirasi. Fotografi secara murni adalah proses mekanistis. 2) fotografi akan berguna bagi kesenian namun tidak serta merta bisa disejajarkan terutama dalam hal kreativitas seperti pada seni lukis dan seni gambar. 3) fotografi dianggap sangat mirip dengan lithografi dalam hal penggoresan objek, sehingga pantas disebut sebagai bagian dari seni dan juga budaya.

Pada 1893, sebuah pameran fotografi di Museum Seni Jerman di Hamburg menuai banyak kontroversi. Namun pada 1902, fotografer Amerika – Alfred Stiglitz membentuk grup bernama PhotoSession di New York. Majalah buatan grup itu yang bertajuk ‘Camera Works’ memuat foto-foto dengan kualitas tinggi, dan diakui oleh beberapa pihak sebagai karya yang menyamai bentuk kesenian. Perkembangan Artistic Photography juga menjanjikan sehingga pengakuan terhadap karya foto juga semakin signifikan. Begitu pula dengan Landscape Photography, dengan tokohnya Ansel Adams, yang telah mempersembahkan penafsiran memukau tentang alam itu sendiri.

Perkembangan dalam bidang fotografi telah melahirkan identitas unik terhadap karya seni.pada 1940, the Museum of Modern Art di Nuew York membentuk departemen fotografi. Ini merupakan bentuk pengakuan strategis terhadap karya fotografi. Fotografi telah memainkan peran yang controversial namun penting didalam kesenian selama 150 tahun. 

Fotografi dan Media Massa

Foto tidak hanya dipandang sebagai medium yang memaparkan keindahan dan cita rasa, foto juga dianggap sebagai medium yang mampu mengungkap dan menginformasikan secara visual kejadian-kejadian yang muncul di masyarakat. Lebih jauh, Foto adalah bukti otentik rekayasa manusia terhadap apa yang dilihat olehnya melalui lensa kamera. Sebuah momen yang diabadikan. Sebuah idealisme, pernyataan sikap, opini, sudut pandang, dan kesaksian, yang disampaikan dalam bentuk potongan gambar hasil olah kimiawi.

Fotografi adalah bagian tak terpisahkan dari wacana media massa terutama dalam praktik jurnalistik. Foto adalah justifikasi sahih atas berita yang dimuat di media massa. Menyitir pendapat Marshall McLuhan: “Medium is the message”, maka foto pun juga telah menjadi pesan itu sendiri. Foto bukan hanya karya dokumentasi kegiatan yang memuat informasi seadanya. Didalam foto terdapat lahan yang luas untuk interpretasi informasi.

Produksi foto untuk kepentingan jurnalistik juga senantiasa menggunakan kreativitas berpikir. Wartawan senior harian Kompas, Kartono Riyadi mengatakan: “Kalau memotret, pakailah otakmu!” (Sugiarto, 2011, hal. vii). Fotografi dalam telaah media massa bukan sekedar karya, tapi lebih merupakan sebuah karya yang ’berbicara’. Sebagaimana yang dilakukan oleh wartawan tulis yang menyampaikan pesannya melalui tulisan, seorang jurnalis foto juga akan menyampaikan pesannya melalui foto yang dia hasilkan.

Meski demikian, foto tidak serta merta diakui sebagai bagian integral dari jurnalistik. Jakob Oetama, Direktur Umum Harian Kompas mengatakan, bahwa “pengakuan karya foto sebagai karya jurnalistik tidak secepat karya tulisan” (Sugiarto, 2011, hal. Ix). Dia mengambil kisah Mendur dan Umbas bersaudara, fotografer penting pada masa revolusi kemerdekaan. Mereka berdua tidak sempat merasakan nama mereka ditulis dan diakui di surat kabar. Pada masa dahulu mungkin tidak terbayang untuk membaca nama fotografer tercantum dalam daftar credit foto koran, atau nama lengkap fotograqfer itu dicantumkan dengan jelas dibawah fotonya yang muncul di halaman utama.

Jacob Oetama bercerita bahwa foto di harian Kompas juga telah melalui proses panjang dalam hal eksistensi: “ (proses yang dilalui foto) perlu waktu panjang, mulai dari sekadar ilustrasi, penguat tulisan, hingga foto itu sendiri adalah berita” (Sugiarto, 2011, hal. ix). Menurutnya, pewarta foto juga telah mendapat perhatian khusus karena sifat pekerjaannya yang khas: “wartawan tulis hadir terlambat masih bisa dapatkan bahan, (sedangkan) wartawan foto terlambat berarti kehilangan momentum” (Sugiarto, 2011, hal. x). Foto telah menawarkan keistimewaan bagi media massa, karena dengan nilai visual yang dihasilkan, kredibilitas sebuah berita akan semakin tinggi dan mampu menjawab keingintahuan masyarakat.   


Rangkuman

Fotografi sebagai sebuah karya manusia telah mampu menjawab kebutuhan akan informasi dan pada saat yang bersamaan juga telah mengubah cara pandang manusia terhadap bentuk karya seni. Fotografi menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi media massa di dunia. Foto sendiri telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas kehidupan manusia, terutama dalam pengabadian momentum, pembuktian sebuah kasus, memelihara memori, dan seperti apa yang disampaikan oleh Rod Giblett: “menghidupkan orang-orang yang sudah meninggal” (2008) agar terus tetap menjadi bagian integral di dunia nyata.  

Aktivitas bersama

1. carilah informasi lebih jauh mengenai perkembangan dunia fotografi, terutama untuk rancangan fotografi masa depan

2. carilah klise lama dari foto yang pernah dibuat oleh keluarga anda. Konsep foto seperti apa yang muncul? Gaya apa yang disuka saat pemotretan? Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah memang memoentum itu bisa diabadikan dalam foto? Mengapa?





Daftar Pustaka
National Geographic. (n.d). Image Collection. Diakses pada 2 Desember 2011 dari http://photography.nationalgeographic.com/photography/image-collection/
Tarrant, John.( 2003). Digital Camera Techniques. Focal Press. Oxford.
Wikipedia. (n.d). View from the window at Le Gras. Diakses pada 3 Desember 2011 dari http://en.wikipedia.org/wiki/File:View_from_the_Window_at_Le_Gras,_Joseph_Nic%C3%A9phore_Ni%C3%A9pce.jpg
Wikipedia. (n.d). Camera Obscura. Diakses pada 3 Desember 2011 dari http://en.wikipedia.org/wiki/File:Camera_obscura.jpg

Kamis, 01 Maret 2012

Preambule

Tujuan dari blog ini adalah untuk membagi informasi dan files yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk membantu proses kuliah di Program studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga.

Meski demikian, jika dalam prakteknya blog ini memuat kata-kata yang tidak jelas dan cenderung meracau, ya mohon diacuhkan saja. Tapi juga ada saatnya tulisan dalam blog ini akan sangat serius membahas persoalan bangsa, kehidupan sosial dan politik.. ah.. mana mungkin hehehe....